Kamis, 23 Mei 2013

Echinodermata

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Echinodermata
Echinodermata berasal dari bahasa Yunani Echinos artinya duri, derma artinya kulit. Secara umum Echinodermata berarti hewan yang berkulit duri. Hewan ini memiliki kemampuan autotomi serta regenerasi bagian tubuh yang hilang, putus atau rusak. Semua hewan yang termasuk dalam kelas ini bentuk tubuhnya radial simetris dan kebanyakan mempunyai endoskeleton dari zat kapur dengan memiliki tonjolan berupa duri. Kelompok utama Echinodermata terdiri dari lima kelas, yaitu kelas Asteroidea (bintang laut) contoh: Archas-ter typicus, kelas Ophiuroidea (Bintang Ular) contoh: Amphiodiaurtica, kelas Echinoidea (Landak Laut) contoh: Diademasetosium, kelas Crinoidea (lilia laut) contoh: Antedon-rosacea, dan kelas Holothuroidea (Tripang Laut) contoh: Holothuriascabra (Jasin, 1984).
Echinodermata merupakan salah satu hewan yang sangat penting dalam ekosistem laut dan bermanfaat sebagai salah satu kompo-nen dalam rantai makanan, pemakan sampah organik dan hewan kecil lainnya. Dahuri (2003) menyatakan bahwa “Jenis-jenis Echino-dermata dapat bersifat pemakan seston atau pemakan destritus, sehingga peranannya dalam suatu ekosistem untuk merombak sisa-sisa bahan organik yang tidak terpakai oleh spesies lain namun dapat dimanfaatkan oleh beberapa jenis Echinodermata”. Selain itu Echinoder-mata mengandung unsur-unsur kimia yang memiliki nilai tinggi di bidang pangan, obat-obatan dan sering dijadikan barang koleksi hiasan yang indah. Mengingat hewan-hewan yang tergolong dalam filum Echinodermata begitu banyak, maka perlu diklasifikasikan dalam kelas tertentu berdasarkan beberapa persamaan dan perbedaan ciri morfologi mau-pun anatomi. Jasin (1984) mengelompok-an filum Echinodermata menjadi 5 kelas yaitu kelas Asteroidea (bintang laut) contoh: Archas-ter typicus, kelas Ophiuroidea(Bintang Ular) contoh: Amphiodiaurtica, kelas Echinoidea (Landak Laut) contoh: Diademasetosium, kelas Crinoidea (lilia laut) contoh: Antedonrosacea, dan kelas Holothuroidea (Tripang Laut) contoh: Holothuriascabra.
Echinodermata adalah hewan laut yang memiliki kulit berduri atau berbintil. Hewan-hewan ini dibagi dalam dibagi dalam 5 kelas utama yakni: teripang (Holothuroidea), bintang laut (Asteroidea), bintang ular (Ophiuroidea), bulu babi (Echinoidea) dan lili laut (Crinoidea). Hewan ini sangat umum di jumpai di daerah pantai terutama di daerah terumbu karang. Di Indonesia dan sekitarnya (kawasan Indi-Pasifik Barat) terdapat teripang kurang lebih 141 jenis, bintang laut 87 jenis, bintang ular 142 jenis, bulu babi 84 jenis dan lili laut 91 jenis (Nontji, 1993).
Anggota filum Echinodermata adalah penghuni lingkungan bahari, terutama di laut bentik. Ciri khasnya adalah tubuh yang menjurus lima tersusun mengelilingi suatu sumbu polar. Hewan ini memiliki kerangka dalam yang mempunyai duri (spine). Sistem pencernaan cukup berkembang, tetapi tidak memiliki sistem ekskresi. Kebanyakan anggota filum Echinodermata diosius, bersaluran reproduksi sederhana, fertilisasi berlangsung eksternal (Ruppert, 1991). Brotowidjoyo (1994), menyatakan hewan ini memiliki sistem digesti lengkap walaupun anus tidak berfungsi. Menurut Niel A. Campbell et al., (2003), bahwa reproduksi seksual anggota filum Echinodermata pada umumnya melibatkan individu jantan dan betina yang terpisah (diosius) dan membebaskan gametnya ke dalam air.
2.2. Karakteristik Phylum Echinodermata
Hyman (1955), menyatakan kelas Echinodermata antara lain: Crinoidea, Asteroidea, Ophiuroidea, Echinoidea dan Holothuroidea.
2.2.1. Kelas Asteroidea
Asteroidea atau banyak orang menyebutnya bintang laut, biasanya di jumpai merayap pada batu, pasir dan terumbu karang dalam laut. Mulut hewan ini berada di sisi bawah terletak ditengah-tengah cakram dan anus diatas.Asteroidea termasuk karnivora, makanan berupa ikan, tiram, kerang, teritip, keong, cacing, crustaceae dan lain-lain. Beberapa jenis merupakan pemakan bangkai. Achantaster merupakan hama pada terumbu karang yang memakan polip Coelenterata. Warna bintang laut ini menarik, biasanya ujung duri berwarna kemerahan atau orange sedangkan permukaan lengan berwarna abu-abu kebiruan.Habitat bintang laut ini adalah terumbu karang terutama dilereng terumbu pada kedalaman 2 sampai 6 meter (Nontji, 1993). Seluruh tubuhnya tertutup oleh duri kecuali pada lekuk sisi oral disebut celah ambulakral dan ada juga yang tidak memiliki duri.Alat gerak berupa kaki tabung. Branchi muncul diantara papan-papan kapur yang berfungsi sebagai alat pernafasan dan ekskresi.Hewan ini memiliki sistem saluran air, lambung, madreporit (saluran keluar masuknya air) dan anus. Permukaan tubuhnya terdapat pediselariae sebagai alat tambahan dan bentuk seperti angkup yang berfungsi untuk menghilangkan benda-benda asing di permukaan tubuhnya (Vinomo, 2007).
Gambar 2. Struktur tubuh bintang laut
Reproduksi Asteroid umumnya dioecious, mempunyai lima pasang gonad pada tiap tangan. Telur dan sperma dilepas ke air, pembuahan diluar dan setelah 2 hari menjadi blastula yang berenang bebas.Larva mulai makan pada saat saluran pencernaan sudah terbentuk.Makanan larva adalah fitoplankton dan partikel tersuspensi. Enam atau tujuh minggu kemudian larva turun ke substrat dan mengalami metamorfosa menjadi dewasa.Kebanyakan bintang laut berumur 10 tahun, tetapi ada yang mencapai 34 tahun (Romimohtarto & Juwana, 2001). Bintang laut dan beberapa Echinodermata mampu melakukan regenerasi. Bintang laut dapat menumbuhkan kembali lengan yamg hilang dan bahkan anggota satu genus dapat menumbuhkan kembali keseluruhan tubuh dari sebuah lengan (Niel A. Campbell et al., 2003).
2.2.2. Kelas Crinoidea
Kelompok hewan ini dinamakan lili laut atau bintang bulu yang mempunyai bentuk yang indah. Sebagian dari mereka hidup dilaut dan beberapa jenis mendiami laut dangkal seperti terumbu karang. Ukurannya tidak lebih dari 40 cm panjangnya dan warna mencolok.Hewan ini memiliki tangkai, kelopak dan lengan. Setiap lengan bercabang 2 atau lebih. Setiap cabang mempunyai ranting-ranting melintang disebut pinula dan cabang- cabang ini membuat hewan ini berbulu. Hewan ini memakan plankton kecil dibawa oleh lengan. Hewan ini peka, tetapi mempunyai kemampuan regenerasi yang tinggi sehingga dapat menyembuhkan diri dari luka (Nontji, 1993).
Gambar 3. Morfologi Crinoid
Reproduksi secara seksual dan dioecious. Gonad terdapat pada pangkal beberapa pinula atau pangkal tangan. Pembuahan di air laut atau dierami.Telur bintang bulu dilekatkan pada sejumlah pinula.Telur menjadi larva, berenang bebas untuk beberapa hari. Selanjutnya turun dan melekat pada substrat dan mengalami proses metamorfosis menjadi bentuk larva bertangkai kecil yang disebut pentacrinoid yang berukuran 3 mm dan proses metamorfosa membutuhkan waktu 6 minggu hingga dewasa (Hyman, 1955).
Proses makan hewan ini dengan menyaring air, plankton masuk ke celah bersilia lalu lengan dan pinula kemudian dialirkan ke mulut. Organ pencernaan ada di calyx.Makanan dibuang melalui anus yang di dekat mulut. Semua jenis dari kelompok ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi baik untuk dijadikan bahan makanan maupun untuk bahan hiasan di akuarium, kecuali bulu seribu, mahkota seribu atau mahkota duri merupakan jenis yang merusak, karena bila populasinya berlimpah akan memakan polip-polip karang dan menyebabkan karang berwarna putih serta lama-kelamaan sebagian populasi karang akan rusak dan mati (Nybakken, 1988).
2.2.3. Kelas Echinoidea
Pada permukaan tubuh hewan ini terdapat tonjolan-tonjolan pendek yang bulat yaitu tempat menempel duri yang tersusun dari zat kapur atau hewan ini sering disebut landak laut. Hewan ini terdiri dari duri, kaki tabung, turberkel. Adakalanya duri tersebut panjang, runcing, di dalamnya berlubang dan rapuh ada juga duri hewan ini pendek dan tumpul. Racunnya sangat keras dan menyakitkan bagi manusia bila tertusuk. Pedicellaria pada bulu babi juga ada yang beracun, berfungsi untuk menghalau atau melumpuhkan binatang-binatang kecil yang mengotori atau mengganggu. Hewan ini biasanya hidup di sela-sela pasir atau bebatuan pantai atau di dasar laut.Tubuhnya tanpa lengan hampir bulat atau gepeng (Sugiarto, 2007).
Gambar 4. Morfologi Echinoidea
Saluran pencernaan lengkap, terdiri atas mulut, esofagus, perut, usus yang panjang dan melingkar, rectum dan anus.Bulu babi memakan ganggang laut, hewan sessile, bangkai, beberapa jenis memakan detritus dan lain-lain. Reproduksi secara seksual, dioecious dan pembuahan di luar.(Ruppert, 1991).
2.2.4. Kelas Holothuroidea
Sebagai contohnya, teripang atau timun laut (Thyone briereus). Tubuhnya lunak, berbentuk seperti kantung memanjang. Dalam kulitnya terdapat papan-papan kecil dari kapur. Pada satu ujung terdapat mulut yang dikelilingi oleh tentakel-tentakel bercabang. Tentakel ini berongga dan dapat memanjang karena tekanan air, hewan ini tidak memiliki duri (Sugiarto, 2007).
Gambar 5. Morfologi Timun Laut
Timun laut merayap lambat sekali, biasanya bersembunyi dalam lubang atau celah batu dan koral atau menanamkan diri dalam lumpur atau pasir laut dan hanya bagian posteriornya saja yang nampak. Umumnya hewan ini aktif pada malam hari berkeliaran pada mencari makan. Makanannya ialah bahan organik yang terdapat dalam sampah substrat atau plankton yang melekat pada lendir tentakel. Satu persatu tentakel dimasukkan dalam pharink dan ketika ditarik keluar maka butir-butir makanan akan melekat pada lendir tentakel dan selanjutnya ditelan. Sistem pencernaan terdiri atas mulut, pharink, esofagus, lambung, usus, cloaca, dan anus (Brotowidjoyo, 1994).
Teripang (Holothuroidea) merupakan golongan yang paling umum dijumpai. Hewan ini banyak terdapat di paparan turumbu karang, pantai berbatu atau berlumpur dan padang lamun. Bukan hanya dilaut dangkal, ada juga yang hidup di laut dalam sekitar 7.000 m. Susunan bentuk dasar tubuh Echinodermata tidak jelas terlihat pada bentuk luar teripang ini karena karangka luarnya tidak ada. Hewan ini sangat bergerak lamban sehingga seakan-akan teripang selalu dalam keadaan diam pada waktu kita lihat di alam bebas. Untuk melindungi diri dari musuh, hewan ini mengeluarkan lendir yang beracun dari tubuhnya. Ada juga jenis yang menyemprotkan getah yang sangat lengket dari duburnya apabila diganggu.Banyak jenis hewan ini yang bisa dikonsumsi bahkan merupakan bahan makanan yang istimewa di restoran Cina (Nontji, 1993).
2.2.5. Kelas Ophiuroidea
Hewan ini memiliki 5 lengan atau tangan yang panjang, berfungsi sebagai alat gerak, Tangan rapuh dan mudah putus namun akan tumbuh tangan baru. Kelima tangan ini bergerak-gerakkan sehingga menyerupai ular. Oleh karena itu hewan jenis ini sering disebut bintang ular laut. Hewan ini rentan terhadap lingkungan dan aktif pada malam hari, berenang dan mencari makan dengan bantuan tangan-tangannya yang gemulai dan dapat meliuk-liuk seperti ular. Bagian mulut akan membentuk bagian yang hilang (Ruppert, 1991).
Gambar 6. Ophiuroidea
Hewan Ofiuroidea hidup dilaut, bersembunyi diantara rumput laut, dalam lumpur atau dalam pasir yang aktif pada malam hari dan hidup berenang, makanan terdiri dari moluska, krustacae, jasad renik dan zat organik yang sedang membusuk yang berada di dasar parairan. Cara makan dengan mengangkat lengan ke atas dalam air untuk menangkap plankton dan bahan makanan lainnya. Hewan ini tidak memiliki anus, makanan yang tidak dicerna dimuntahkan kembali keluar mulut (Romimohtarto & Juwana, 2001). Dalam Nontji (1993) menyatakan bintang mengular biasanya sukar dijumpai karena lebih senang pada tempat-tempat yang agak gelap di bawah batu atau celah-celah karang. Diatom merupakan makanannya utama, tetapi ada pula yang memakan berbagai hewan kecil. Kebanyakan Ophiuroid adalah dioecious. Pembuahan diluar, menghasilkan larva ophiopluteus yang berenang bebas.Beberapa hari kemudian mengalami metamorfosa mengalami hidup dewasa. Beberapa jenis mempunyai kantung pengeraman dan larvanya berenang bebas (Brotowidjoyo, 1994).
2.3. Morfologi Echinodermata
Gambar 7. Morfologi Echinodermata (a. Kelas Asteroidea, b. Kelas Crinoidea, c. Kelas Echinoidea, d. Kelas Ophiuroidea, e. Kelas Holothuroidea)

Hewan Echinodermata bertubuh kasar karena ditutupi tonjolan kerangka atau duri yang memiliki berbagai fungsi tetapi ada juga sebagian tidak memiliki duri seperti timun laut. Sistem pencernaan cukup berkembang, tetapi tidak memiliki sistem ekskresi. Kebanyakan hewan ini diosius, saluran reproduksi sederhana, sedangkan fertilisasi berlangsung eksternal (Pecherik, 2005). Sistem pembuluh air berfungsi untuk mengerakkan kaki tabung (tube feet) dengan cara mengatur masuk dan keluarnya air laut melalui madreporit (saluran keluar masuknya air). Kontraksi ampula mengatur volume air dalam kaki tabung, berarti mengatur gerak kaki tabung.Kaki tabung juga berfungsi untuk merayap, berpegang pada substrat, memegang mangsa atau membantu pertukaran gas O2 dan CO2 (Nontji, 1993). Alat pernafasan utama Echinodermata ialah insang kulit yang merupakan perluasan rongga tubuh yang keluar melalui lubang-lubang kecil di antara osscle kapur. Rongga tubuh berisi cairan semacam getah bening, mengandung amebocyte yang berkepentingan dalam peredaran darah, pernafasan dan ekskresi. Didalam rongga tubuh terdapat organ dalam seperti kelenjar pencernaan (Ruppret, 1991).
Hewan ini bertahan hidup dengan suatu sistem pembuluh air yang unik yang dilibatkan di dalam pernapasan, gerakan, dan pertemuan makanan. Mulut itu ditempatkan di bagian bawah dari tubuh. Organ bagian badan terdiri dari suatu lima bagian simetris termasuk gigi dan struktur seperti lidah yang gemuk (Sugiarto, 2007).
2.4. Faktor Ekologi Echinodermata

2.4.1. Suhu
Pada setiap penelitian perairan, pengukuran suhu adalah hal yang harus dilakukan sebab kelarutan berbagai gas dalam air serta seluruh aktivitas biologis dan fisiologis organisme perairan sangat dipengaruhi oleh suhu ( Brehm dan Meijering, 1990 dalam Barus, 1996). Kinsman (1964) dalam Supriharyono (2002) menyebutkan bahwa batas minimum dan maksimum suhu berkisar antara 16°C -17° dan 36° C.
Pola temperatur ekosistem akuatik dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dan udara sekelilingnya dan juga oleh faktor kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi perairan (Brehm et al., 1990 dalam Barus, 1996).
2.4.2. Salinitas
Ciri paling khas pada air laut adalah rasa asin, karena mengandung bermacam-macam garam dan yang paling utama adalah NaCl. Echinodermata mampu beradaptasi disalinitas 24,4 ‰ sampai dengan 34,5 ‰ (Pagett 1981). Namun pengaruh salinitas tergantung pada kondisi perairan laut setempat atau pengaruh alam seperti badai dan hujan (Supriharyono, 2002).
2.4.3. DO (Disolved Oxygen)
DO merupakan banyaknya oksigen terlarut dalam suatu perairan. Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting di dalam ekosistem perairan, terutama sekali dibutuhkan untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme air. Kelarutan oksigen di dalam air terutama sangat dipengaruhi oleh faktor suhu, dimana kelarutan maksimum terdapat pada suhu 00C, yaitu sebesar 14,16 mg/l O2 sedangkan nilai oksigen terlarut di perairan sebaliknya tidak lebih kecil dari 8 mg oksigen/liter air. Dengan peningkatan suhu akan menyebabkan konsentrasi oksigen akan menurun dan sebaliknya suhu yang semakin rendah akan meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut. Sumber utama oksigen terlarut dalam air berasal dari adanya kontak antara permukaan air dengan udara dan juga dari proses fotosintesis (Barus, 2004). Menurut Michael (1994), oksigen hilang dari air alam oleh adanya pernafasan biota, pengurairan bahan organik, aliran masuk air bawah tanah yang miskin oksigen dan kenaikan suhu.
2.4.4. pH (Derajat Keasaman)

Setiap spesies memiliki kisaran toleransi yang berbeda terhadap pH.pH yang ideal bagi kehidupan organisme akuatik termasuk makrozoobentos pada umumnya berkisar antara 7 sampai 8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. Disamping itu pH yang sangat rendah akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat yang bersifat toksik semakin tinggi yang tentunya akan mengancam kelangsungan hidup organisme akuatik. Sementara pH yang tinggi akan menyebabkan keseimbangan antara amonium dan amoniak dalam air akan terganggu, dimana kenaikan pH diatas akan meningkatkan konsentrasi amoniak yang juga bersifat sangat toksik bagi organisme (Barus, 2004).

Sabtu, 06 Oktober 2012

Iventarisasi Hasil Tangkapan ikan


Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas dan strategis dengan kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya hayati yang tinggi. Luas Kepulauan Indonesia memiliki panjang garis pantai mencapai 81.000 km dengan jumlah pulau mencapai lebih dari 17.500 pulau. Luas daratan 1,9 juta km2, sementara luas perairan 3,1 juta km2, (Dahuri et all, 2001.).
Luasnya perairan dan semakin berkembangnya teknologi menyebabkan perkembangan pembangunan wilayah perairan  yang dinamis dan semakin terbatasnya potensi sumberdaya nasional di darat serta perkembangan teknologi maritim yang sangat pesat. Hal tersebut memberikan kemudahan dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya laut sehingga menjadikan perhatian bangsa Indonesia terhadap fungsi, peranan dan potensi wilayah laut yang semakin berkembang. Potensi sumberdaya maritim salah satunya adalah potensi wilayah penangkapan ikan.
Proses penangkapan ikan pada masa sekarang telah berkembang sangat pesat. Banyak teknologi penangkapan yang dapat digunakan dalam mempermudah pengambilan ikan, misalnya purse seine. Purse seine  adalah  jenis jaring penangkap ikan berbentuk empat persegi panjang atau trapesium, dilengkapi dengan tali kolor yang dilewatkan melalui cincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring (tali ris bawah), sehingga dengan menarik tali kolor bagian bawah jaring dapat dikuncupkan sehingga gerombolan ikan terkurung di dalam jarring.
Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari berlokasi di pesisir pantai utara Laut Jawa tepatnya di Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah, pada posisi 109° 10’0” BT dan 07° 01’0” LS. Lokasi pelabuhan perikanan ini sangatlah strategis, karena berada di pantai utara Pulau Jawa yang dikenal memiliki potensi sumber daya ikan terutama layang, cakalang tongkol, kembung dan cumi - cumi yang cukup melimpah. Pelabuhan perikanan ini merupakan tempat yang sangat ideal untuk dijadikan pelabuhan pangkalan bagi kapal-kapal perikanan khususnya purse seine yang beroperasi di Perairan Tegal (Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Tegal, 2009.).
 Maka, Inventarisasi hasil tangkapan ikan di perairan tegal perlu dikaji untuk mengetahui potensi ikan dengan alat tangkap purse seine.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Usaha Perikanan
 Usaha perikanan adalah suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang tidak dapat di pisahkan satu dengan yang lainnya. komponene- komponen tersebut adalah ikan sebagai sumberdaya hayati, perairan sebagai sumberdaya alam, nelayan sebagai produsen, pengelola lembaga pemasaran serta masyarakat umum selaku konsumen akhir. (Monintja dan Martasuganda, 1991.).
Menurut (Mudzakir, 2003.) usaha perikanan adalah cara menentukan, mengkoordinasi, mengorganisasikan penggunaan faktor-faktor produksi yang selektif mungkin sehingga produksi memberikan keuntungan yang lebih. Sedangkan sukses tidaknya usaha perikanan sangat tergantung dari besarnya tarikan pemasaran hasil dan kemampuan menggunakan sumberdaya secara efisien.
Perikanan merupakan semua kegiatan yang berkaitan dengan ikan, termasuk memproduksi ikan, baik melalui penangkapan (perikanan tangkap) maupun budidaya (perikanan budidaya atau akuakultur) dan atau mengolahnya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pangan sumber protein dan non pangan. Ikan di artikan secara luas, yakni mencangkup semua biota akuatik, baik hewan (golongan ikan, udang. Kerang dan ekinodermata) maupun tanaman (golongan alga seperti rumput laut). Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia, produk perikanan juga ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan nonpangan, seperti bahan baku industri, konservasi, pariwisata, ikan hias dan daur ulang limbah. (Effendi, 2002.).
2.2. Perikanan Tangkap
Perikanan tangkap adalah kegiatan memproduksi ikan dengan menangkap dari perairan di daratan seperti sungai, muara sungai, danau, waduk, sawah dan perairan laut seperti perairan pantai dan laut lepas. Ikan yang di tangkap berasal dari stok di suatu perairan. Ketersediaan stok ini sangat di pengaruhi oleh proses produksi dan pertumbuhan alamiah serta aktivitas penangkapan dan pencemaran lingkungan.
            Berdasarkan aspek historis  dari evolusi, perikanan tangkap merupakan kegiatan perikanan yang lebih dulu di lakukan oleh manusia hingga berkembang menjadi suatu usaha (bisnis). Kegiatan perikanan tangkap berkembang dari kebiasaan berburu pada masyarakat dalam periode prasejarah untuk memenuhi kebutuhan pangan. Perburuan ikan di lakukan dengan menggunakan peralatan sederhana, seperti tombak dan penjebak ikan. Daerah perburuan meliputi perairan di pinggir pantai, laut dangkal, muara sungai, sawah payau, danau dan sungai. Perburuan di pantai dan laut dangkal di peroleh ikan laut, di muara sungai dan rawa payau di peroleh ikan air payau, sedangkan di danau dan sungai di peroleh air tawar.
            Perikanan tangkap berkembang dari perburuan ikan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan menjadi kegiatan penangkapan ikan yang di hasilnya di jual untuk mendapatkan keuntungan. Pertambahan penduduk meningkatkan permintaan (demand) produk perikanan tangkap  baik secara kuantitas maupun kualitas. Demi memenuhi permintaan yang selalu meningkat, sejalan dengan pertambahan populasi penduduk, usaha perikanan tangkap juga terus berkembang (Subani dan Barus, 1989.).
2.3. Kapal Perikanan
Kapal perikanan merupakan sarana yang digunakan untuk mempermudah kinerja yang dilakukan baik berupa kegiatan penangkapan, pengakutan, dan pengolahan. Kegiatan perikanan berupa penangkapan ikan dan budidaya laut tidak lepas dari peran kapal sebagai alat transportasi. Kapal penangkap ikan adalah kapal yang langsung dipergunakan dalam operasi penangkapan ikan atau binatang air lainnya. Kapal pengangkut tidak termasuk kapal penangkap, tetapi kapal yang digunakan untuk mengangkut nelayan. Alat-alat penangkap dan hasil penangkapan dalam rangka penangkapan dengan bagan, sero, kelong, dan lain-lain termasuk perahu atau kapal penangkap.
Pengklasifikasian kapal penangkapan ikan dibedakan berdasarkan kapal yang menggunakan perahu motor tempel yang mendarat di perairan Tegal.
a)   Kurang dari 5 GT
b)   5 – 10 GT
c)    10 – 20 GT
d)  20 – 30 GT
e)   30 – 50 GT
Kebutuhan penggunaan besarnya kapal bergantung pada komoditas dan kepentingan seseorang dalam menggunakannya. Perkembangan kapal perikanan berupa teknologi yang digunakan bergantung pada kebutuhan atas permintaan pasar dan musim penangkapan. Secara tidak langsung bentuk dan corak kapal dipengaruhi oleh permintaan pasar berupa produk ikan yang tertangkap (Widodo, 2007.).  
2.4. Alat Tangkap Purse seine
   Alat tangkap Purse seine atau yang lebih dilkenal dengan istilah pukat cincin mulai diperkenalkan sekitar tahun 70-an di Batang. Dalam perkembangannya alat ini telah banyak mengalami perubahan dan modifikasi dan berkembang pesat hingga saat ini serta memberikan kontribusi yang cukup besar dalam produksi perikanan di perairan laut Jawa.
Ayodhyoa, 1981. menyatakan bahwa ikan yang menjadi tujuan penangkapan jaring Purse seine adalah ikan pelagis yang bergerombol dan dekat dengan permukaan air laut. Jika ikan-ikan belum terkumpul pada suatu penangkapan (cachtable area) atau diluar kemampuan tangkap jaring, maka harus diusahakan agar ikan datang dan berkumpul dengan cara menggunakan bantuan cahaya, rumpon, floating faft, dan lain-lain.
Menurut (Asep priatna, 2008.) Purse seine yang beroperasi di laut Jawa diklasifikasikan dalam 3 kelompok berdasarkan ukurannya, yaitu: mini purse seine atau purse seine yang berukuran kecil, Purse seine sedang dan purse seine besar.
Berdasarkan ukuran panjang kapal (LOB) yaitu: Purse seine mini dengan ukuran panjang kapal antara 10–15 m, Purse seine sedang dengan ukuran antara 15-20 m dan purse seine besar dengan ukuran diatas 20 m. Hasil ketiga jenis armada tersebut mendominasi ikan pelagis yang didaratkan.

Purse seine atau pukat cincin adalah jenis alat tangkap yang seine,  yaitu alat tangkap yang aktif untuk menangkap ikan-ikan pelagis yang hidup umumnya membentuk kawanan atau bergerombol dalam suatu kelompok besar. Purse seine dapat digolongkan dalam jaring lingkar karena dalam pengoperasiannya jaring akan membentuk pagar dinding melingkar yang mengelilingi kawanan ikan yang akan ditangkap. Setelah jaring mengurung (mengelilingi) kawanan ikan, maka pada tahap akhir penyelesaian penangkapan bagian bawahnya tertutup seolah membentuk suatu kantong besar.
Pukat kantong ( seine net ) Adalah alat penangkapan ikan berbentuk kantong yang terbuat dari jaring dan terdiri dari 2 (dua) bagian sayap, badan, dan kantong jaring, bagian kantong terletak di belakang bagian badan yang merupakan tempat terkumpulnya hasil tangkapan ikan. Alat tangkap ini digunakan untuk menangkap berbagai jenis ikan pelagis, dan demersal. Pukat kantong terdiri dari pukat payang, pukat layang, dogol dan pukat pantai. (Sudirman, dan Mallawa, 2004. ).
Operasi Pukat Kantong untuk ikan-ikan permukaan biasanya dibantu dengan pemasangan rumpon yang dilengkapi lampu di bagian atasnya. Rumpon ini bisa dirancang sebagai rumpon tetap atau rumpon hanyut yang ditambatkan pada perahu kecil. Nama lokal pukat kantong berbeda sesuai dengan daerahnya. Di beberapa tempat seperti Utara Jawa dan Sumatera, Pukat Kantong permukaan disebut Payang atau Lampara, sedangkan di tempat lain seperti Madura disebut Oras.
Dogol adalah nama daerah untuk Pukat Kantong di daerah Utara Jawa yang bertujuan untuk menangkap ikan-ikan dasar. Konstruksi dari alat tangkap Dogol mirip dengan alat tangkap Danish Seine sehingga nama Dogol sering digunakan sebagai terjemahan langsung untuk Danish Seine. Di daerah Madura dan Jawa Utara Bagian Timur, Dogol juga sering disebut dengan nama Payang Hitam. ( Widodo, 2003. ).
2.5. Sumber Daya Ikan
Sumber daya ikan merupakan segala sesuatu yang didapatkan dari alam berupa ikan. Ikan merupakan hewan avertebrata yang hidup di perairan baik di daratan maupun perairan di laut. Berdasarkan pola hidup ikan tersebut ikan dapat dibagi menjadi ikan pelagis dan ikan demersal. Ikan pelagis yang banyak terdapat di wilayah perairan dekat pantai adalah pelagis kecil, misalnya Teri (Stolephorus spp.), Kembung (Rastrelliger sp.), Layang (Decapterus sp.), dan Selar (Selaroides sp.) (Merta. 1993.). Sedangkan ikan demersal merupakan kelompok ikan yang hidup di dasar atau dekat dasar perairan, dimana beberapa spesiesnya merupakan spesies ikan karang yang mempunyai nilai ekonomis penting, yakni Bambangan (Lutjanidae), Kerapu (Serranidae), Baronang (Siganidae), Ekor Kuning (Caesionidae) serta spesies-spesies ikan hias seperti Napoleon (Labridae) dan ikan konsumsi lainnya (Aoyama,1973.).
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 995/Kpts/IK.210/9/ 1999 tentang Potensi Sumberdaya Ikan dan Jumlah Tangkapan yang diperbolehkan, sumberdaya ikan di wilayah perikanan Indonesia dikelompokkan menjadi 6 kelompok sumberdaya Ikan yaitu: Pelagis Besar; Pelagis Kecil; Demersal; Udang; Cumi – cumi; dan Ikan Karang (Ikan Karang Konsumsi dan Ikan Hias).
Menurut kajian potensi dan penyebaran sumberdaya ikan di perairan Indonesia tahun 1991, luas daerah penangkapan ikan di Jawa Tengah adalah seluas 72.000 km2. ( Badrudin, et al, 1998. ) Luasnya daerah penangkapan ini menunjukan besarnya peluang hasil tangkapan ikan yang akan didapatkan. Pengawasan yang dilakukan oleh lembaga pemerintah diharapkan dapat mengoptimalkan dan mengatur hasil tangkap terhadap luasnya lahan tangkapan yang didapat. Pengaturan ini dilakukan dikarenakan sifat penangkapan yang bersifat common property.
Ikan pelagis terdiri dari jenis pelagis besar dan jenis pelagis kecil. Ikan pelagis besar didominasi oleh jenis ikan dari keluarga keluarga Scombroidae yang memiliki ukuran yang besar. Pada umumnya pola hidup ikan pelagis dapat berenang bebas diperairan dan membentuk kumpulan hewan atau berkumpul pada suatu tempat di perairan. Banyaknya jenis ikan pelagis di laut tidak dapat dengan mudah dengan satu jenis alat tangkap. Jenis ikan pelagis yang ditangkap tergantung pada alat tangkap yang digunakan, dengan demikian banyaknya jenis alat tangkap akan mempengaruhi keragaman hasil tangkapan jenis ikan pelagis (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kupang, 2006).
2.6.  Produksi
Produksi adalah perubahan dari dua atau lebih input (sumber daya) menjadi satu atau lebih output (produk). Produksi merupakan hasil akhir dari proses aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input. Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa kegiatan produksi adalah mengkombinasi berbagai input atau masukan untuk menghasilkan output.
Fungsi produksi adalah hubungan teknis antara faktor-faktor produksi dan barang produksi dalam proses produksi sedangkan produksi perikanan adalah semua jenis ikan, binatang air yang tertangkap dari sumber perairan alami atau suatu tempat yang di usahakan oleh perusahaan perikanan.
Perbedaan pendapatan antara unit penangkapan  dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan usaha tersebut. Besarnya investasi dan tenaga kerja memberikan pengaruh yang signifikan terhadap satuan usaha penangkapan, kedua variabel ini sangat menentukan dalam pemberdayaan usaha perikanan dalam meningkatkan produksi dan pendapatan.
            Umur dan pendidikan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan produksi penangkapan. Perbedayaan biaya operasional, trip penangkapan, ukuran kapal dan pengalaman nelayan purse-seine dalam menjalankan usaha diduga mempengaruhi besar kecilnya hasil tangkapan (produksi). (Nontji, 1993.).