Indonesia merupakan negara kepulauan
yang luas dan strategis dengan kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya hayati
yang tinggi. Luas Kepulauan Indonesia memiliki panjang garis pantai
mencapai 81.000 km dengan jumlah pulau mencapai lebih dari 17.500 pulau. Luas
daratan 1,9 juta km2, sementara luas perairan 3,1 juta km2,
(Dahuri
et all, 2001.).
Luasnya perairan dan semakin
berkembangnya teknologi menyebabkan perkembangan pembangunan wilayah
perairan yang dinamis dan semakin
terbatasnya potensi sumberdaya nasional di darat serta perkembangan teknologi
maritim yang sangat pesat. Hal tersebut memberikan kemudahan dalam pemanfaatan
dan pengelolaan sumberdaya laut sehingga menjadikan perhatian bangsa Indonesia
terhadap fungsi, peranan dan potensi wilayah laut yang semakin berkembang.
Potensi sumberdaya maritim salah satunya adalah potensi wilayah penangkapan
ikan.
Proses penangkapan ikan
pada masa sekarang telah berkembang sangat pesat. Banyak teknologi penangkapan
yang dapat digunakan dalam mempermudah pengambilan ikan, misalnya purse seine. Purse seine adalah jenis jaring penangkap ikan berbentuk empat
persegi panjang atau trapesium, dilengkapi dengan tali kolor yang dilewatkan
melalui cincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring (tali ris bawah),
sehingga dengan menarik tali kolor bagian bawah jaring dapat dikuncupkan
sehingga gerombolan ikan terkurung di dalam jarring.
Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari
berlokasi di pesisir pantai utara Laut Jawa tepatnya di Kelurahan Tegalsari,
Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah, pada posisi 109° 10’0”
BT dan 07° 01’0” LS. Lokasi pelabuhan perikanan ini sangatlah strategis, karena
berada di pantai utara Pulau Jawa yang dikenal memiliki potensi sumber daya
ikan terutama layang, cakalang tongkol, kembung dan cumi - cumi yang cukup
melimpah. Pelabuhan perikanan ini merupakan tempat yang sangat ideal untuk
dijadikan pelabuhan pangkalan bagi kapal-kapal perikanan khususnya purse seine yang beroperasi di Perairan
Tegal (Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Tegal, 2009.).
Maka, Inventarisasi hasil tangkapan ikan di
perairan tegal perlu dikaji untuk mengetahui potensi ikan dengan alat tangkap purse seine.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Usaha Perikanan
Usaha perikanan adalah suatu
sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang tidak dapat di pisahkan satu
dengan yang lainnya. komponene- komponen tersebut adalah ikan sebagai
sumberdaya hayati, perairan sebagai sumberdaya alam, nelayan sebagai produsen,
pengelola lembaga pemasaran serta masyarakat umum selaku konsumen akhir. (Monintja
dan Martasuganda, 1991.).
Menurut (Mudzakir, 2003.) usaha perikanan adalah
cara menentukan, mengkoordinasi, mengorganisasikan penggunaan faktor-faktor
produksi yang selektif mungkin sehingga produksi memberikan keuntungan yang lebih.
Sedangkan sukses tidaknya usaha perikanan sangat tergantung dari besarnya tarikan
pemasaran hasil dan kemampuan menggunakan sumberdaya secara efisien.
Perikanan merupakan semua kegiatan yang berkaitan
dengan ikan, termasuk memproduksi ikan, baik melalui penangkapan (perikanan
tangkap) maupun budidaya (perikanan budidaya atau akuakultur) dan atau
mengolahnya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pangan sumber protein dan non
pangan. Ikan di artikan secara luas, yakni mencangkup semua biota akuatik, baik
hewan (golongan ikan, udang. Kerang dan ekinodermata) maupun tanaman (golongan
alga seperti rumput laut). Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia,
produk perikanan juga ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan nonpangan, seperti
bahan baku industri, konservasi, pariwisata, ikan hias dan daur ulang limbah. (Effendi, 2002.).
2.2. Perikanan Tangkap
Perikanan tangkap
adalah kegiatan memproduksi ikan dengan menangkap dari perairan di daratan
seperti sungai, muara sungai, danau, waduk, sawah dan perairan laut seperti
perairan pantai dan laut lepas. Ikan yang di tangkap berasal dari stok di suatu
perairan. Ketersediaan stok ini sangat di pengaruhi oleh proses produksi dan
pertumbuhan alamiah serta aktivitas penangkapan dan pencemaran lingkungan.
Berdasarkan aspek historis dari evolusi, perikanan tangkap merupakan
kegiatan perikanan yang lebih dulu di lakukan oleh manusia hingga berkembang
menjadi suatu usaha (bisnis). Kegiatan perikanan tangkap berkembang dari
kebiasaan berburu pada masyarakat dalam periode prasejarah untuk memenuhi
kebutuhan pangan. Perburuan ikan di lakukan dengan menggunakan peralatan
sederhana, seperti tombak dan penjebak ikan. Daerah perburuan meliputi perairan
di pinggir pantai, laut dangkal, muara sungai, sawah payau, danau dan sungai.
Perburuan di pantai dan laut dangkal di peroleh ikan laut, di muara sungai dan
rawa payau di peroleh ikan air payau, sedangkan di danau dan sungai di peroleh
air tawar.
Perikanan tangkap berkembang dari
perburuan ikan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan menjadi kegiatan
penangkapan ikan yang di hasilnya di jual untuk mendapatkan keuntungan.
Pertambahan penduduk meningkatkan permintaan (demand) produk perikanan
tangkap baik secara kuantitas maupun
kualitas. Demi memenuhi permintaan yang selalu meningkat, sejalan dengan
pertambahan populasi penduduk, usaha perikanan tangkap juga terus berkembang (Subani dan Barus, 1989.).
2.3.
Kapal Perikanan
Kapal perikanan merupakan sarana yang digunakan untuk mempermudah kinerja
yang dilakukan baik berupa kegiatan penangkapan, pengakutan, dan pengolahan.
Kegiatan perikanan berupa penangkapan ikan dan budidaya laut tidak lepas dari
peran kapal sebagai alat transportasi. Kapal penangkap ikan adalah kapal yang
langsung dipergunakan dalam operasi penangkapan ikan atau binatang air lainnya.
Kapal pengangkut tidak termasuk kapal penangkap, tetapi kapal yang digunakan untuk mengangkut nelayan.
Alat-alat penangkap dan hasil penangkapan dalam rangka penangkapan dengan
bagan, sero, kelong, dan
lain-lain termasuk perahu atau kapal penangkap.
Pengklasifikasian kapal penangkapan ikan dibedakan berdasarkan kapal yang
menggunakan perahu motor tempel yang mendarat di perairan Tegal.
a)
Kurang dari 5 GT
b)
5 – 10 GT
c)
10 – 20 GT
d) 20 – 30 GT
e)
30 – 50 GT
Kebutuhan penggunaan besarnya kapal bergantung pada komoditas dan
kepentingan seseorang dalam menggunakannya. Perkembangan kapal perikanan berupa
teknologi yang digunakan bergantung pada kebutuhan atas permintaan pasar dan
musim penangkapan. Secara tidak langsung bentuk dan corak kapal dipengaruhi
oleh permintaan pasar berupa produk ikan yang tertangkap (Widodo, 2007.).
2.4. Alat Tangkap Purse seine
Alat
tangkap Purse seine atau yang lebih
dilkenal dengan istilah pukat cincin mulai diperkenalkan
sekitar tahun 70-an di Batang. Dalam perkembangannya alat ini telah banyak
mengalami perubahan dan modifikasi dan berkembang pesat hingga saat ini serta
memberikan kontribusi yang cukup besar dalam produksi perikanan di perairan
laut Jawa.
Ayodhyoa, 1981. menyatakan
bahwa ikan yang menjadi tujuan penangkapan jaring Purse seine adalah ikan
pelagis yang bergerombol dan dekat dengan permukaan air laut. Jika ikan-ikan
belum terkumpul pada suatu penangkapan (cachtable area) atau diluar kemampuan tangkap jaring,
maka harus diusahakan agar ikan datang dan berkumpul dengan cara menggunakan
bantuan cahaya, rumpon, floating faft, dan lain-lain.
Menurut
(Asep priatna, 2008.) Purse seine
yang beroperasi di laut Jawa diklasifikasikan dalam 3 kelompok berdasarkan
ukurannya, yaitu: mini purse seine
atau purse seine yang berukuran
kecil, Purse seine sedang dan purse seine besar.
Berdasarkan
ukuran panjang kapal (LOB) yaitu: Purse seine
mini dengan ukuran panjang kapal antara 10–15 m, Purse seine sedang dengan ukuran antara 15-20 m dan purse seine besar dengan ukuran diatas
20 m. Hasil ketiga jenis armada tersebut mendominasi ikan pelagis yang
didaratkan.
Purse seine
atau pukat cincin adalah jenis alat tangkap yang seine, yaitu alat tangkap yang aktif untuk menangkap
ikan-ikan pelagis yang hidup umumnya membentuk kawanan atau bergerombol dalam
suatu kelompok besar. Purse seine dapat digolongkan dalam jaring lingkar karena
dalam pengoperasiannya jaring akan membentuk pagar dinding melingkar yang
mengelilingi kawanan ikan yang akan ditangkap. Setelah jaring mengurung
(mengelilingi) kawanan ikan, maka pada tahap akhir penyelesaian penangkapan bagian
bawahnya tertutup seolah membentuk suatu kantong besar.
Pukat kantong ( seine net
) Adalah alat
penangkapan ikan berbentuk kantong yang terbuat dari jaring dan terdiri dari 2
(dua) bagian sayap, badan, dan kantong jaring,
bagian kantong terletak di belakang bagian badan yang merupakan tempat
terkumpulnya hasil tangkapan ikan. Alat tangkap ini digunakan untuk menangkap
berbagai jenis ikan pelagis, dan demersal. Pukat kantong terdiri dari pukat
payang, pukat layang, dogol dan pukat pantai. (Sudirman, dan Mallawa,
2004. ).
Operasi Pukat Kantong untuk ikan-ikan permukaan biasanya dibantu
dengan pemasangan rumpon yang dilengkapi lampu di bagian atasnya. Rumpon ini
bisa dirancang
sebagai rumpon tetap atau rumpon hanyut yang ditambatkan pada perahu kecil. Nama
lokal pukat kantong berbeda sesuai dengan daerahnya. Di beberapa tempat seperti
Utara Jawa dan Sumatera, Pukat Kantong permukaan disebut Payang atau Lampara,
sedangkan di tempat lain seperti Madura disebut Oras.
Dogol adalah nama daerah untuk Pukat Kantong di daerah Utara Jawa yang
bertujuan untuk menangkap ikan-ikan dasar. Konstruksi dari alat tangkap Dogol
mirip dengan alat tangkap Danish Seine
sehingga nama Dogol sering digunakan sebagai terjemahan langsung untuk
Danish Seine. Di daerah Madura dan Jawa Utara Bagian Timur,
Dogol juga sering disebut dengan nama Payang Hitam. ( Widodo, 2003. ).
2.5. Sumber Daya Ikan
Sumber daya ikan merupakan segala sesuatu yang didapatkan dari alam berupa
ikan. Ikan merupakan hewan avertebrata yang hidup di perairan baik di daratan
maupun perairan di laut. Berdasarkan pola hidup ikan tersebut ikan dapat dibagi
menjadi ikan pelagis dan ikan demersal. Ikan pelagis yang banyak terdapat di
wilayah perairan dekat pantai adalah pelagis kecil, misalnya Teri (Stolephorus spp.), Kembung
(Rastrelliger sp.), Layang (Decapterus sp.), dan Selar (Selaroides sp.) (Merta. 1993.). Sedangkan
ikan demersal merupakan kelompok ikan yang hidup di dasar atau dekat dasar
perairan, dimana beberapa spesiesnya merupakan spesies ikan karang yang mempunyai
nilai ekonomis penting, yakni Bambangan
(Lutjanidae), Kerapu (Serranidae), Baronang (Siganidae), Ekor Kuning (Caesionidae) serta spesies-spesies ikan hias
seperti Napoleon
(Labridae) dan ikan konsumsi lainnya
(Aoyama,1973.).
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 995/Kpts/IK.210/9/ 1999 tentang
Potensi Sumberdaya Ikan dan Jumlah Tangkapan yang diperbolehkan, sumberdaya
ikan di wilayah perikanan Indonesia dikelompokkan menjadi 6 kelompok sumberdaya
Ikan yaitu: Pelagis
Besar; Pelagis Kecil;
Demersal; Udang; Cumi – cumi;
dan Ikan Karang (Ikan Karang Konsumsi dan Ikan Hias).
Menurut kajian potensi dan penyebaran sumberdaya ikan di perairan Indonesia
tahun 1991, luas daerah penangkapan ikan di Jawa Tengah adalah seluas 72.000 km2. ( Badrudin, et al, 1998. )
Luasnya daerah penangkapan ini menunjukan besarnya peluang hasil tangkapan ikan
yang akan didapatkan. Pengawasan
yang dilakukan oleh lembaga pemerintah diharapkan dapat mengoptimalkan dan
mengatur hasil tangkap terhadap luasnya lahan tangkapan yang didapat.
Pengaturan ini dilakukan dikarenakan sifat penangkapan yang bersifat common property.
Ikan pelagis terdiri dari jenis pelagis besar dan jenis pelagis kecil. Ikan
pelagis besar didominasi oleh jenis ikan dari keluarga keluarga Scombroidae yang memiliki ukuran yang
besar. Pada umumnya pola hidup ikan pelagis dapat berenang bebas diperairan dan
membentuk kumpulan hewan atau berkumpul pada suatu tempat di perairan.
Banyaknya jenis ikan pelagis di laut tidak dapat dengan mudah dengan satu jenis
alat tangkap. Jenis ikan pelagis yang ditangkap tergantung pada alat tangkap
yang digunakan, dengan demikian banyaknya jenis alat tangkap akan mempengaruhi
keragaman hasil tangkapan jenis ikan pelagis (Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Kabupaten Kupang, 2006).
2.6. Produksi
Produksi adalah perubahan dari dua atau
lebih input (sumber daya) menjadi satu atau lebih output (produk). Produksi
merupakan hasil akhir dari proses aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan
beberapa masukan atau input. Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa
kegiatan produksi adalah mengkombinasi berbagai input atau masukan untuk
menghasilkan output.
Fungsi produksi adalah hubungan teknis
antara faktor-faktor produksi dan barang produksi dalam proses produksi
sedangkan produksi perikanan adalah semua jenis ikan, binatang air yang
tertangkap dari sumber perairan alami atau suatu tempat yang di usahakan oleh
perusahaan perikanan.
Perbedaan pendapatan antara unit
penangkapan dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang berkaitan dengan usaha tersebut. Besarnya investasi dan tenaga
kerja memberikan pengaruh yang signifikan terhadap satuan usaha penangkapan,
kedua variabel ini sangat menentukan dalam pemberdayaan usaha perikanan dalam
meningkatkan produksi dan pendapatan.
Umur dan pendidikan merupakan
faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan produksi penangkapan. Perbedayaan
biaya operasional, trip penangkapan, ukuran kapal dan pengalaman nelayan
purse-seine dalam menjalankan usaha diduga mempengaruhi besar kecilnya hasil
tangkapan (produksi). (Nontji, 1993.).