Sabtu, 06 Oktober 2012

Iventarisasi Hasil Tangkapan ikan


Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas dan strategis dengan kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya hayati yang tinggi. Luas Kepulauan Indonesia memiliki panjang garis pantai mencapai 81.000 km dengan jumlah pulau mencapai lebih dari 17.500 pulau. Luas daratan 1,9 juta km2, sementara luas perairan 3,1 juta km2, (Dahuri et all, 2001.).
Luasnya perairan dan semakin berkembangnya teknologi menyebabkan perkembangan pembangunan wilayah perairan  yang dinamis dan semakin terbatasnya potensi sumberdaya nasional di darat serta perkembangan teknologi maritim yang sangat pesat. Hal tersebut memberikan kemudahan dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya laut sehingga menjadikan perhatian bangsa Indonesia terhadap fungsi, peranan dan potensi wilayah laut yang semakin berkembang. Potensi sumberdaya maritim salah satunya adalah potensi wilayah penangkapan ikan.
Proses penangkapan ikan pada masa sekarang telah berkembang sangat pesat. Banyak teknologi penangkapan yang dapat digunakan dalam mempermudah pengambilan ikan, misalnya purse seine. Purse seine  adalah  jenis jaring penangkap ikan berbentuk empat persegi panjang atau trapesium, dilengkapi dengan tali kolor yang dilewatkan melalui cincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring (tali ris bawah), sehingga dengan menarik tali kolor bagian bawah jaring dapat dikuncupkan sehingga gerombolan ikan terkurung di dalam jarring.
Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari berlokasi di pesisir pantai utara Laut Jawa tepatnya di Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah, pada posisi 109° 10’0” BT dan 07° 01’0” LS. Lokasi pelabuhan perikanan ini sangatlah strategis, karena berada di pantai utara Pulau Jawa yang dikenal memiliki potensi sumber daya ikan terutama layang, cakalang tongkol, kembung dan cumi - cumi yang cukup melimpah. Pelabuhan perikanan ini merupakan tempat yang sangat ideal untuk dijadikan pelabuhan pangkalan bagi kapal-kapal perikanan khususnya purse seine yang beroperasi di Perairan Tegal (Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Tegal, 2009.).
 Maka, Inventarisasi hasil tangkapan ikan di perairan tegal perlu dikaji untuk mengetahui potensi ikan dengan alat tangkap purse seine.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Usaha Perikanan
 Usaha perikanan adalah suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang tidak dapat di pisahkan satu dengan yang lainnya. komponene- komponen tersebut adalah ikan sebagai sumberdaya hayati, perairan sebagai sumberdaya alam, nelayan sebagai produsen, pengelola lembaga pemasaran serta masyarakat umum selaku konsumen akhir. (Monintja dan Martasuganda, 1991.).
Menurut (Mudzakir, 2003.) usaha perikanan adalah cara menentukan, mengkoordinasi, mengorganisasikan penggunaan faktor-faktor produksi yang selektif mungkin sehingga produksi memberikan keuntungan yang lebih. Sedangkan sukses tidaknya usaha perikanan sangat tergantung dari besarnya tarikan pemasaran hasil dan kemampuan menggunakan sumberdaya secara efisien.
Perikanan merupakan semua kegiatan yang berkaitan dengan ikan, termasuk memproduksi ikan, baik melalui penangkapan (perikanan tangkap) maupun budidaya (perikanan budidaya atau akuakultur) dan atau mengolahnya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pangan sumber protein dan non pangan. Ikan di artikan secara luas, yakni mencangkup semua biota akuatik, baik hewan (golongan ikan, udang. Kerang dan ekinodermata) maupun tanaman (golongan alga seperti rumput laut). Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia, produk perikanan juga ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan nonpangan, seperti bahan baku industri, konservasi, pariwisata, ikan hias dan daur ulang limbah. (Effendi, 2002.).
2.2. Perikanan Tangkap
Perikanan tangkap adalah kegiatan memproduksi ikan dengan menangkap dari perairan di daratan seperti sungai, muara sungai, danau, waduk, sawah dan perairan laut seperti perairan pantai dan laut lepas. Ikan yang di tangkap berasal dari stok di suatu perairan. Ketersediaan stok ini sangat di pengaruhi oleh proses produksi dan pertumbuhan alamiah serta aktivitas penangkapan dan pencemaran lingkungan.
            Berdasarkan aspek historis  dari evolusi, perikanan tangkap merupakan kegiatan perikanan yang lebih dulu di lakukan oleh manusia hingga berkembang menjadi suatu usaha (bisnis). Kegiatan perikanan tangkap berkembang dari kebiasaan berburu pada masyarakat dalam periode prasejarah untuk memenuhi kebutuhan pangan. Perburuan ikan di lakukan dengan menggunakan peralatan sederhana, seperti tombak dan penjebak ikan. Daerah perburuan meliputi perairan di pinggir pantai, laut dangkal, muara sungai, sawah payau, danau dan sungai. Perburuan di pantai dan laut dangkal di peroleh ikan laut, di muara sungai dan rawa payau di peroleh ikan air payau, sedangkan di danau dan sungai di peroleh air tawar.
            Perikanan tangkap berkembang dari perburuan ikan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan menjadi kegiatan penangkapan ikan yang di hasilnya di jual untuk mendapatkan keuntungan. Pertambahan penduduk meningkatkan permintaan (demand) produk perikanan tangkap  baik secara kuantitas maupun kualitas. Demi memenuhi permintaan yang selalu meningkat, sejalan dengan pertambahan populasi penduduk, usaha perikanan tangkap juga terus berkembang (Subani dan Barus, 1989.).
2.3. Kapal Perikanan
Kapal perikanan merupakan sarana yang digunakan untuk mempermudah kinerja yang dilakukan baik berupa kegiatan penangkapan, pengakutan, dan pengolahan. Kegiatan perikanan berupa penangkapan ikan dan budidaya laut tidak lepas dari peran kapal sebagai alat transportasi. Kapal penangkap ikan adalah kapal yang langsung dipergunakan dalam operasi penangkapan ikan atau binatang air lainnya. Kapal pengangkut tidak termasuk kapal penangkap, tetapi kapal yang digunakan untuk mengangkut nelayan. Alat-alat penangkap dan hasil penangkapan dalam rangka penangkapan dengan bagan, sero, kelong, dan lain-lain termasuk perahu atau kapal penangkap.
Pengklasifikasian kapal penangkapan ikan dibedakan berdasarkan kapal yang menggunakan perahu motor tempel yang mendarat di perairan Tegal.
a)   Kurang dari 5 GT
b)   5 – 10 GT
c)    10 – 20 GT
d)  20 – 30 GT
e)   30 – 50 GT
Kebutuhan penggunaan besarnya kapal bergantung pada komoditas dan kepentingan seseorang dalam menggunakannya. Perkembangan kapal perikanan berupa teknologi yang digunakan bergantung pada kebutuhan atas permintaan pasar dan musim penangkapan. Secara tidak langsung bentuk dan corak kapal dipengaruhi oleh permintaan pasar berupa produk ikan yang tertangkap (Widodo, 2007.).  
2.4. Alat Tangkap Purse seine
   Alat tangkap Purse seine atau yang lebih dilkenal dengan istilah pukat cincin mulai diperkenalkan sekitar tahun 70-an di Batang. Dalam perkembangannya alat ini telah banyak mengalami perubahan dan modifikasi dan berkembang pesat hingga saat ini serta memberikan kontribusi yang cukup besar dalam produksi perikanan di perairan laut Jawa.
Ayodhyoa, 1981. menyatakan bahwa ikan yang menjadi tujuan penangkapan jaring Purse seine adalah ikan pelagis yang bergerombol dan dekat dengan permukaan air laut. Jika ikan-ikan belum terkumpul pada suatu penangkapan (cachtable area) atau diluar kemampuan tangkap jaring, maka harus diusahakan agar ikan datang dan berkumpul dengan cara menggunakan bantuan cahaya, rumpon, floating faft, dan lain-lain.
Menurut (Asep priatna, 2008.) Purse seine yang beroperasi di laut Jawa diklasifikasikan dalam 3 kelompok berdasarkan ukurannya, yaitu: mini purse seine atau purse seine yang berukuran kecil, Purse seine sedang dan purse seine besar.
Berdasarkan ukuran panjang kapal (LOB) yaitu: Purse seine mini dengan ukuran panjang kapal antara 10–15 m, Purse seine sedang dengan ukuran antara 15-20 m dan purse seine besar dengan ukuran diatas 20 m. Hasil ketiga jenis armada tersebut mendominasi ikan pelagis yang didaratkan.

Purse seine atau pukat cincin adalah jenis alat tangkap yang seine,  yaitu alat tangkap yang aktif untuk menangkap ikan-ikan pelagis yang hidup umumnya membentuk kawanan atau bergerombol dalam suatu kelompok besar. Purse seine dapat digolongkan dalam jaring lingkar karena dalam pengoperasiannya jaring akan membentuk pagar dinding melingkar yang mengelilingi kawanan ikan yang akan ditangkap. Setelah jaring mengurung (mengelilingi) kawanan ikan, maka pada tahap akhir penyelesaian penangkapan bagian bawahnya tertutup seolah membentuk suatu kantong besar.
Pukat kantong ( seine net ) Adalah alat penangkapan ikan berbentuk kantong yang terbuat dari jaring dan terdiri dari 2 (dua) bagian sayap, badan, dan kantong jaring, bagian kantong terletak di belakang bagian badan yang merupakan tempat terkumpulnya hasil tangkapan ikan. Alat tangkap ini digunakan untuk menangkap berbagai jenis ikan pelagis, dan demersal. Pukat kantong terdiri dari pukat payang, pukat layang, dogol dan pukat pantai. (Sudirman, dan Mallawa, 2004. ).
Operasi Pukat Kantong untuk ikan-ikan permukaan biasanya dibantu dengan pemasangan rumpon yang dilengkapi lampu di bagian atasnya. Rumpon ini bisa dirancang sebagai rumpon tetap atau rumpon hanyut yang ditambatkan pada perahu kecil. Nama lokal pukat kantong berbeda sesuai dengan daerahnya. Di beberapa tempat seperti Utara Jawa dan Sumatera, Pukat Kantong permukaan disebut Payang atau Lampara, sedangkan di tempat lain seperti Madura disebut Oras.
Dogol adalah nama daerah untuk Pukat Kantong di daerah Utara Jawa yang bertujuan untuk menangkap ikan-ikan dasar. Konstruksi dari alat tangkap Dogol mirip dengan alat tangkap Danish Seine sehingga nama Dogol sering digunakan sebagai terjemahan langsung untuk Danish Seine. Di daerah Madura dan Jawa Utara Bagian Timur, Dogol juga sering disebut dengan nama Payang Hitam. ( Widodo, 2003. ).
2.5. Sumber Daya Ikan
Sumber daya ikan merupakan segala sesuatu yang didapatkan dari alam berupa ikan. Ikan merupakan hewan avertebrata yang hidup di perairan baik di daratan maupun perairan di laut. Berdasarkan pola hidup ikan tersebut ikan dapat dibagi menjadi ikan pelagis dan ikan demersal. Ikan pelagis yang banyak terdapat di wilayah perairan dekat pantai adalah pelagis kecil, misalnya Teri (Stolephorus spp.), Kembung (Rastrelliger sp.), Layang (Decapterus sp.), dan Selar (Selaroides sp.) (Merta. 1993.). Sedangkan ikan demersal merupakan kelompok ikan yang hidup di dasar atau dekat dasar perairan, dimana beberapa spesiesnya merupakan spesies ikan karang yang mempunyai nilai ekonomis penting, yakni Bambangan (Lutjanidae), Kerapu (Serranidae), Baronang (Siganidae), Ekor Kuning (Caesionidae) serta spesies-spesies ikan hias seperti Napoleon (Labridae) dan ikan konsumsi lainnya (Aoyama,1973.).
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 995/Kpts/IK.210/9/ 1999 tentang Potensi Sumberdaya Ikan dan Jumlah Tangkapan yang diperbolehkan, sumberdaya ikan di wilayah perikanan Indonesia dikelompokkan menjadi 6 kelompok sumberdaya Ikan yaitu: Pelagis Besar; Pelagis Kecil; Demersal; Udang; Cumi – cumi; dan Ikan Karang (Ikan Karang Konsumsi dan Ikan Hias).
Menurut kajian potensi dan penyebaran sumberdaya ikan di perairan Indonesia tahun 1991, luas daerah penangkapan ikan di Jawa Tengah adalah seluas 72.000 km2. ( Badrudin, et al, 1998. ) Luasnya daerah penangkapan ini menunjukan besarnya peluang hasil tangkapan ikan yang akan didapatkan. Pengawasan yang dilakukan oleh lembaga pemerintah diharapkan dapat mengoptimalkan dan mengatur hasil tangkap terhadap luasnya lahan tangkapan yang didapat. Pengaturan ini dilakukan dikarenakan sifat penangkapan yang bersifat common property.
Ikan pelagis terdiri dari jenis pelagis besar dan jenis pelagis kecil. Ikan pelagis besar didominasi oleh jenis ikan dari keluarga keluarga Scombroidae yang memiliki ukuran yang besar. Pada umumnya pola hidup ikan pelagis dapat berenang bebas diperairan dan membentuk kumpulan hewan atau berkumpul pada suatu tempat di perairan. Banyaknya jenis ikan pelagis di laut tidak dapat dengan mudah dengan satu jenis alat tangkap. Jenis ikan pelagis yang ditangkap tergantung pada alat tangkap yang digunakan, dengan demikian banyaknya jenis alat tangkap akan mempengaruhi keragaman hasil tangkapan jenis ikan pelagis (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kupang, 2006).
2.6.  Produksi
Produksi adalah perubahan dari dua atau lebih input (sumber daya) menjadi satu atau lebih output (produk). Produksi merupakan hasil akhir dari proses aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input. Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa kegiatan produksi adalah mengkombinasi berbagai input atau masukan untuk menghasilkan output.
Fungsi produksi adalah hubungan teknis antara faktor-faktor produksi dan barang produksi dalam proses produksi sedangkan produksi perikanan adalah semua jenis ikan, binatang air yang tertangkap dari sumber perairan alami atau suatu tempat yang di usahakan oleh perusahaan perikanan.
Perbedaan pendapatan antara unit penangkapan  dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan usaha tersebut. Besarnya investasi dan tenaga kerja memberikan pengaruh yang signifikan terhadap satuan usaha penangkapan, kedua variabel ini sangat menentukan dalam pemberdayaan usaha perikanan dalam meningkatkan produksi dan pendapatan.
            Umur dan pendidikan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan produksi penangkapan. Perbedayaan biaya operasional, trip penangkapan, ukuran kapal dan pengalaman nelayan purse-seine dalam menjalankan usaha diduga mempengaruhi besar kecilnya hasil tangkapan (produksi). (Nontji, 1993.).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar