II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Echinodermata
Echinodermata berasal
dari bahasa Yunani Echinos artinya duri, derma artinya kulit. Secara
umum Echinodermata berarti hewan yang berkulit duri. Hewan ini memiliki kemampuan autotomi
serta regenerasi bagian tubuh yang hilang, putus atau rusak. Semua hewan yang
termasuk dalam kelas ini bentuk tubuhnya radial simetris dan kebanyakan mempunyai
endoskeleton dari zat kapur dengan memiliki tonjolan berupa duri. Kelompok
utama Echinodermata terdiri dari lima kelas, yaitu kelas Asteroidea
(bintang laut) contoh: Archas-ter typicus, kelas Ophiuroidea (Bintang
Ular) contoh: Amphiodiaurtica, kelas Echinoidea (Landak Laut) contoh: Diademasetosium,
kelas Crinoidea (lilia laut) contoh: Antedon-rosacea, dan kelas
Holothuroidea (Tripang Laut) contoh: Holothuriascabra (Jasin, 1984).
Echinodermata merupakan
salah satu hewan yang sangat penting dalam ekosistem laut dan bermanfaat
sebagai salah satu kompo-nen dalam rantai makanan, pemakan sampah organik dan
hewan kecil lainnya. Dahuri (2003) menyatakan bahwa “Jenis-jenis Echino-dermata
dapat bersifat pemakan seston atau pemakan destritus, sehingga peranannya
dalam suatu ekosistem untuk merombak sisa-sisa bahan organik yang tidak
terpakai oleh spesies lain namun dapat dimanfaatkan oleh beberapa jenis Echinodermata”.
Selain itu Echinoder-mata mengandung unsur-unsur kimia yang memiliki
nilai tinggi di bidang pangan, obat-obatan dan sering dijadikan barang koleksi
hiasan yang indah. Mengingat
hewan-hewan yang tergolong dalam filum Echinodermata begitu banyak, maka
perlu diklasifikasikan dalam kelas tertentu berdasarkan beberapa persamaan dan
perbedaan ciri morfologi mau-pun anatomi. Jasin (1984) mengelompok-an filum Echinodermata
menjadi 5 kelas yaitu kelas Asteroidea (bintang laut) contoh: Archas-ter
typicus, kelas Ophiuroidea(Bintang Ular) contoh: Amphiodiaurtica,
kelas Echinoidea (Landak Laut) contoh: Diademasetosium, kelas Crinoidea
(lilia laut) contoh: Antedonrosacea, dan kelas Holothuroidea (Tripang
Laut) contoh: Holothuriascabra.
Echinodermata
adalah hewan laut yang memiliki kulit berduri atau berbintil. Hewan-hewan ini
dibagi dalam dibagi dalam 5 kelas utama yakni: teripang (Holothuroidea),
bintang laut (Asteroidea), bintang ular (Ophiuroidea), bulu babi (Echinoidea)
dan lili laut (Crinoidea). Hewan ini sangat umum di jumpai di daerah pantai
terutama di daerah terumbu karang. Di Indonesia dan sekitarnya (kawasan
Indi-Pasifik Barat) terdapat teripang kurang lebih 141 jenis, bintang laut 87
jenis, bintang ular 142 jenis, bulu babi 84 jenis dan lili laut 91 jenis
(Nontji, 1993).
Anggota
filum Echinodermata adalah penghuni lingkungan bahari, terutama di laut bentik. Ciri khasnya adalah tubuh yang menjurus
lima tersusun mengelilingi suatu
sumbu polar. Hewan ini memiliki
kerangka dalam yang mempunyai duri (spine). Sistem
pencernaan cukup berkembang, tetapi tidak memiliki sistem ekskresi. Kebanyakan anggota filum Echinodermata diosius,
bersaluran reproduksi sederhana, fertilisasi berlangsung eksternal (Ruppert,
1991). Brotowidjoyo (1994),
menyatakan hewan ini memiliki sistem digesti lengkap walaupun anus tidak
berfungsi. Menurut Niel A. Campbell et al., (2003), bahwa reproduksi
seksual anggota filum Echinodermata pada umumnya melibatkan individu jantan dan
betina yang terpisah (diosius) dan membebaskan gametnya ke dalam air.
2.2. Karakteristik Phylum Echinodermata
Hyman
(1955), menyatakan kelas Echinodermata antara lain: Crinoidea, Asteroidea,
Ophiuroidea, Echinoidea dan Holothuroidea.
2.2.1. Kelas Asteroidea
Asteroidea atau banyak
orang menyebutnya bintang laut, biasanya di jumpai merayap pada batu, pasir dan
terumbu karang dalam laut. Mulut hewan ini berada di sisi bawah terletak
ditengah-tengah cakram dan anus diatas.Asteroidea termasuk karnivora, makanan
berupa ikan, tiram, kerang, teritip, keong, cacing, crustaceae dan lain-lain. Beberapa
jenis merupakan pemakan bangkai. Achantaster merupakan hama pada terumbu karang
yang memakan polip Coelenterata. Warna bintang laut ini menarik, biasanya ujung
duri berwarna kemerahan atau orange sedangkan permukaan lengan berwarna abu-abu
kebiruan.Habitat bintang laut ini adalah terumbu karang terutama dilereng
terumbu pada kedalaman 2 sampai 6 meter (Nontji, 1993). Seluruh tubuhnya
tertutup oleh duri kecuali pada lekuk sisi oral disebut celah ambulakral dan
ada juga yang tidak memiliki duri.Alat gerak berupa kaki tabung. Branchi muncul
diantara papan-papan kapur yang berfungsi sebagai alat pernafasan dan
ekskresi.Hewan ini memiliki sistem saluran air, lambung, madreporit (saluran
keluar masuknya air) dan anus. Permukaan tubuhnya terdapat pediselariae sebagai
alat tambahan dan bentuk seperti angkup yang berfungsi untuk menghilangkan
benda-benda asing di permukaan tubuhnya (Vinomo, 2007).

Gambar 2. Struktur tubuh bintang laut
Reproduksi Asteroid
umumnya dioecious, mempunyai lima pasang gonad pada tiap tangan. Telur
dan sperma dilepas ke air, pembuahan diluar dan setelah 2 hari menjadi blastula
yang berenang bebas.Larva mulai makan pada saat saluran pencernaan sudah
terbentuk.Makanan larva adalah fitoplankton dan partikel tersuspensi. Enam atau
tujuh minggu kemudian larva turun ke substrat dan mengalami metamorfosa menjadi
dewasa.Kebanyakan bintang laut berumur 10 tahun, tetapi ada yang mencapai 34
tahun (Romimohtarto & Juwana, 2001). Bintang laut dan beberapa Echinodermata
mampu melakukan regenerasi. Bintang laut dapat menumbuhkan kembali lengan yamg
hilang dan bahkan anggota satu genus dapat menumbuhkan kembali keseluruhan
tubuh dari sebuah lengan (Niel A. Campbell et al., 2003).
2.2.2. Kelas Crinoidea
Kelompok hewan ini
dinamakan lili laut atau bintang bulu yang mempunyai bentuk yang indah. Sebagian
dari mereka hidup dilaut dan beberapa jenis mendiami laut dangkal seperti
terumbu karang. Ukurannya tidak lebih dari 40 cm panjangnya dan warna
mencolok.Hewan ini memiliki tangkai, kelopak dan lengan. Setiap lengan
bercabang 2 atau lebih. Setiap cabang mempunyai ranting-ranting melintang
disebut pinula dan cabang- cabang ini membuat hewan ini berbulu. Hewan
ini memakan plankton kecil dibawa oleh lengan. Hewan ini peka, tetapi mempunyai
kemampuan regenerasi yang tinggi sehingga dapat menyembuhkan diri dari luka
(Nontji, 1993).

Gambar 3. Morfologi
Crinoid
Reproduksi secara
seksual dan dioecious. Gonad terdapat pada pangkal beberapa pinula atau
pangkal tangan. Pembuahan di air laut atau dierami.Telur bintang bulu
dilekatkan pada sejumlah pinula.Telur menjadi larva, berenang bebas untuk
beberapa hari. Selanjutnya turun dan melekat pada substrat dan mengalami proses
metamorfosis menjadi bentuk larva bertangkai kecil yang disebut pentacrinoid
yang berukuran 3 mm dan proses metamorfosa membutuhkan waktu 6 minggu
hingga dewasa (Hyman, 1955).
Proses makan hewan ini
dengan menyaring air, plankton masuk ke celah bersilia lalu lengan dan pinula
kemudian dialirkan ke mulut. Organ pencernaan ada di calyx.Makanan dibuang
melalui anus yang di dekat mulut. Semua jenis dari kelompok ini mempunyai nilai
ekonomi yang tinggi baik untuk dijadikan bahan makanan maupun untuk bahan
hiasan di akuarium, kecuali bulu seribu, mahkota seribu atau mahkota duri
merupakan jenis yang merusak, karena bila populasinya berlimpah akan memakan
polip-polip karang dan menyebabkan karang berwarna putih serta lama-kelamaan
sebagian populasi karang akan rusak dan mati (Nybakken, 1988).
2.2.3. Kelas Echinoidea
Pada permukaan tubuh
hewan ini terdapat tonjolan-tonjolan pendek yang bulat yaitu tempat menempel
duri yang tersusun dari zat kapur atau hewan ini sering disebut landak laut. Hewan
ini terdiri dari duri, kaki tabung, turberkel. Adakalanya duri tersebut
panjang, runcing, di dalamnya berlubang dan rapuh ada juga duri hewan ini
pendek dan tumpul. Racunnya sangat keras dan menyakitkan bagi manusia bila
tertusuk. Pedicellaria pada bulu babi juga ada yang beracun, berfungsi
untuk menghalau atau melumpuhkan binatang-binatang kecil yang mengotori atau
mengganggu. Hewan ini biasanya hidup di sela-sela pasir atau bebatuan pantai
atau di dasar laut.Tubuhnya tanpa lengan hampir bulat atau gepeng (Sugiarto,
2007).

Gambar 4. Morfologi Echinoidea
Saluran pencernaan
lengkap, terdiri atas mulut, esofagus, perut, usus yang panjang dan melingkar,
rectum dan anus.Bulu babi memakan ganggang laut, hewan sessile, bangkai,
beberapa jenis memakan detritus dan lain-lain. Reproduksi secara seksual,
dioecious dan pembuahan di luar.(Ruppert, 1991).
2.2.4. Kelas Holothuroidea
Sebagai contohnya,
teripang atau timun laut (Thyone briereus). Tubuhnya lunak, berbentuk
seperti kantung memanjang. Dalam kulitnya terdapat papan-papan kecil dari
kapur. Pada satu ujung terdapat mulut yang dikelilingi oleh tentakel-tentakel
bercabang. Tentakel ini berongga dan dapat memanjang karena tekanan air, hewan
ini tidak memiliki duri (Sugiarto, 2007).

Gambar 5. Morfologi Timun Laut
Timun
laut merayap lambat sekali, biasanya bersembunyi dalam lubang atau celah batu
dan koral atau menanamkan diri dalam lumpur atau pasir laut dan hanya bagian
posteriornya saja yang nampak. Umumnya hewan ini aktif pada malam hari
berkeliaran pada mencari makan. Makanannya ialah bahan organik yang terdapat
dalam sampah substrat atau plankton yang melekat pada lendir tentakel. Satu
persatu tentakel dimasukkan dalam pharink dan ketika ditarik keluar maka
butir-butir makanan akan melekat pada lendir tentakel dan selanjutnya ditelan.
Sistem pencernaan terdiri atas mulut, pharink, esofagus, lambung, usus, cloaca,
dan anus (Brotowidjoyo, 1994).
Teripang
(Holothuroidea) merupakan golongan yang paling umum dijumpai. Hewan ini banyak
terdapat di paparan turumbu karang, pantai berbatu atau berlumpur dan padang
lamun. Bukan hanya dilaut dangkal, ada juga yang hidup di laut dalam sekitar
7.000 m. Susunan bentuk dasar tubuh Echinodermata tidak jelas terlihat pada
bentuk luar teripang ini karena karangka luarnya tidak ada. Hewan ini sangat
bergerak lamban sehingga seakan-akan teripang selalu dalam keadaan diam pada
waktu kita lihat di alam bebas. Untuk melindungi diri dari musuh, hewan ini
mengeluarkan lendir yang beracun dari tubuhnya. Ada juga jenis yang
menyemprotkan getah yang sangat lengket dari duburnya apabila diganggu.Banyak
jenis hewan ini yang bisa dikonsumsi bahkan merupakan bahan makanan yang
istimewa di restoran Cina (Nontji, 1993).
2.2.5. Kelas Ophiuroidea
Hewan ini memiliki 5
lengan atau tangan yang panjang, berfungsi sebagai alat gerak, Tangan rapuh dan
mudah putus namun akan tumbuh tangan baru. Kelima tangan ini bergerak-gerakkan
sehingga menyerupai ular. Oleh karena itu hewan jenis ini sering disebut
bintang ular laut. Hewan ini rentan terhadap lingkungan dan aktif pada malam
hari, berenang dan mencari makan dengan bantuan tangan-tangannya yang gemulai
dan dapat meliuk-liuk seperti ular. Bagian mulut akan membentuk bagian yang
hilang (Ruppert, 1991).

Gambar 6. Ophiuroidea
Hewan Ofiuroidea hidup
dilaut, bersembunyi diantara rumput laut, dalam lumpur atau dalam pasir yang
aktif pada malam hari dan hidup berenang, makanan terdiri dari moluska,
krustacae, jasad renik dan zat organik yang sedang membusuk yang berada di
dasar parairan. Cara makan dengan mengangkat lengan ke atas dalam air untuk
menangkap plankton dan bahan makanan lainnya. Hewan ini tidak memiliki anus,
makanan yang tidak dicerna dimuntahkan kembali keluar mulut (Romimohtarto &
Juwana, 2001). Dalam Nontji (1993) menyatakan bintang mengular biasanya sukar
dijumpai karena lebih senang pada tempat-tempat yang agak gelap di bawah batu
atau celah-celah karang. Diatom merupakan makanannya utama, tetapi ada pula
yang memakan berbagai hewan kecil. Kebanyakan Ophiuroid adalah dioecious.
Pembuahan diluar, menghasilkan larva ophiopluteus yang berenang
bebas.Beberapa hari kemudian mengalami metamorfosa mengalami hidup dewasa. Beberapa
jenis mempunyai kantung pengeraman dan larvanya berenang bebas (Brotowidjoyo,
1994).
2.3. Morfologi Echinodermata

Gambar 7. Morfologi Echinodermata (a. Kelas Asteroidea,
b. Kelas Crinoidea, c. Kelas Echinoidea, d. Kelas Ophiuroidea, e. Kelas
Holothuroidea)
Hewan
Echinodermata bertubuh kasar karena ditutupi tonjolan kerangka atau duri yang
memiliki berbagai fungsi tetapi ada juga sebagian tidak memiliki duri seperti
timun laut. Sistem pencernaan cukup berkembang, tetapi tidak memiliki sistem
ekskresi. Kebanyakan hewan ini diosius, saluran reproduksi sederhana, sedangkan
fertilisasi berlangsung eksternal (Pecherik, 2005). Sistem pembuluh air
berfungsi untuk mengerakkan kaki tabung (tube feet) dengan cara mengatur
masuk dan keluarnya air laut melalui madreporit (saluran keluar masuknya
air). Kontraksi ampula mengatur volume air dalam kaki tabung, berarti mengatur
gerak kaki tabung.Kaki tabung juga berfungsi untuk merayap, berpegang pada
substrat, memegang mangsa atau membantu pertukaran gas O2 dan CO2 (Nontji,
1993). Alat pernafasan utama Echinodermata ialah insang kulit yang merupakan
perluasan rongga tubuh yang keluar melalui lubang-lubang kecil di antara osscle
kapur. Rongga tubuh berisi cairan semacam getah bening, mengandung amebocyte
yang berkepentingan dalam peredaran darah, pernafasan dan ekskresi. Didalam
rongga tubuh terdapat organ dalam seperti kelenjar pencernaan (Ruppret, 1991).
Hewan ini bertahan
hidup dengan suatu sistem pembuluh air yang unik yang dilibatkan di dalam
pernapasan, gerakan, dan pertemuan makanan. Mulut itu ditempatkan di bagian
bawah dari tubuh. Organ bagian badan terdiri dari suatu lima bagian simetris
termasuk gigi dan struktur seperti lidah yang gemuk (Sugiarto, 2007).
2.4. Faktor Ekologi Echinodermata
2.4.1. Suhu
Pada
setiap penelitian perairan, pengukuran suhu adalah hal yang harus dilakukan
sebab kelarutan berbagai gas dalam air serta seluruh aktivitas biologis dan
fisiologis organisme perairan sangat dipengaruhi oleh suhu ( Brehm dan
Meijering, 1990 dalam Barus, 1996). Kinsman (1964) dalam Supriharyono
(2002) menyebutkan bahwa batas minimum dan maksimum suhu berkisar antara 16°C
-17° dan 36° C.
Pola temperatur
ekosistem akuatik dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya
matahari, pertukaran panas antara air dan udara sekelilingnya dan juga oleh
faktor kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi
perairan (Brehm et al., 1990 dalam Barus, 1996).
2.4.2. Salinitas
Ciri paling khas pada
air laut adalah rasa asin, karena mengandung bermacam-macam garam dan yang
paling utama adalah NaCl. Echinodermata mampu beradaptasi disalinitas 24,4 ‰ sampai
dengan 34,5 ‰ (Pagett 1981). Namun pengaruh salinitas tergantung pada kondisi
perairan laut setempat atau pengaruh alam seperti badai dan hujan
(Supriharyono, 2002).
2.4.3. DO (Disolved
Oxygen)
DO merupakan banyaknya
oksigen terlarut dalam suatu perairan. Oksigen terlarut merupakan suatu faktor
yang sangat penting di dalam ekosistem perairan, terutama sekali dibutuhkan
untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme air. Kelarutan oksigen di
dalam air terutama sangat dipengaruhi oleh faktor suhu, dimana kelarutan
maksimum terdapat pada suhu 00C, yaitu sebesar 14,16 mg/l O2
sedangkan nilai oksigen terlarut di perairan sebaliknya tidak lebih kecil dari
8 mg oksigen/liter air. Dengan peningkatan suhu akan menyebabkan konsentrasi
oksigen akan menurun dan sebaliknya suhu yang semakin rendah akan meningkatkan
konsentrasi oksigen terlarut. Sumber utama oksigen terlarut dalam air berasal
dari adanya kontak antara permukaan air dengan udara dan juga dari proses
fotosintesis (Barus, 2004). Menurut Michael (1994), oksigen hilang dari air
alam oleh adanya pernafasan biota, pengurairan bahan organik, aliran masuk air
bawah tanah yang miskin oksigen dan kenaikan suhu.
2.4.4. pH (Derajat Keasaman)
Setiap spesies memiliki
kisaran toleransi yang berbeda terhadap pH.pH yang ideal bagi kehidupan
organisme akuatik termasuk makrozoobentos pada umumnya berkisar antara 7 sampai
8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan
membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya
gangguan metabolisme dan respirasi. Disamping itu pH yang sangat rendah akan
menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat yang bersifat toksik semakin
tinggi yang tentunya akan mengancam kelangsungan hidup organisme akuatik.
Sementara pH yang tinggi akan menyebabkan keseimbangan antara amonium dan
amoniak dalam air akan terganggu, dimana kenaikan pH diatas akan meningkatkan
konsentrasi amoniak yang juga bersifat sangat toksik bagi organisme (Barus,
2004).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar