Kamis, 23 Mei 2013

Echinodermata

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Echinodermata
Echinodermata berasal dari bahasa Yunani Echinos artinya duri, derma artinya kulit. Secara umum Echinodermata berarti hewan yang berkulit duri. Hewan ini memiliki kemampuan autotomi serta regenerasi bagian tubuh yang hilang, putus atau rusak. Semua hewan yang termasuk dalam kelas ini bentuk tubuhnya radial simetris dan kebanyakan mempunyai endoskeleton dari zat kapur dengan memiliki tonjolan berupa duri. Kelompok utama Echinodermata terdiri dari lima kelas, yaitu kelas Asteroidea (bintang laut) contoh: Archas-ter typicus, kelas Ophiuroidea (Bintang Ular) contoh: Amphiodiaurtica, kelas Echinoidea (Landak Laut) contoh: Diademasetosium, kelas Crinoidea (lilia laut) contoh: Antedon-rosacea, dan kelas Holothuroidea (Tripang Laut) contoh: Holothuriascabra (Jasin, 1984).
Echinodermata merupakan salah satu hewan yang sangat penting dalam ekosistem laut dan bermanfaat sebagai salah satu kompo-nen dalam rantai makanan, pemakan sampah organik dan hewan kecil lainnya. Dahuri (2003) menyatakan bahwa “Jenis-jenis Echino-dermata dapat bersifat pemakan seston atau pemakan destritus, sehingga peranannya dalam suatu ekosistem untuk merombak sisa-sisa bahan organik yang tidak terpakai oleh spesies lain namun dapat dimanfaatkan oleh beberapa jenis Echinodermata”. Selain itu Echinoder-mata mengandung unsur-unsur kimia yang memiliki nilai tinggi di bidang pangan, obat-obatan dan sering dijadikan barang koleksi hiasan yang indah. Mengingat hewan-hewan yang tergolong dalam filum Echinodermata begitu banyak, maka perlu diklasifikasikan dalam kelas tertentu berdasarkan beberapa persamaan dan perbedaan ciri morfologi mau-pun anatomi. Jasin (1984) mengelompok-an filum Echinodermata menjadi 5 kelas yaitu kelas Asteroidea (bintang laut) contoh: Archas-ter typicus, kelas Ophiuroidea(Bintang Ular) contoh: Amphiodiaurtica, kelas Echinoidea (Landak Laut) contoh: Diademasetosium, kelas Crinoidea (lilia laut) contoh: Antedonrosacea, dan kelas Holothuroidea (Tripang Laut) contoh: Holothuriascabra.
Echinodermata adalah hewan laut yang memiliki kulit berduri atau berbintil. Hewan-hewan ini dibagi dalam dibagi dalam 5 kelas utama yakni: teripang (Holothuroidea), bintang laut (Asteroidea), bintang ular (Ophiuroidea), bulu babi (Echinoidea) dan lili laut (Crinoidea). Hewan ini sangat umum di jumpai di daerah pantai terutama di daerah terumbu karang. Di Indonesia dan sekitarnya (kawasan Indi-Pasifik Barat) terdapat teripang kurang lebih 141 jenis, bintang laut 87 jenis, bintang ular 142 jenis, bulu babi 84 jenis dan lili laut 91 jenis (Nontji, 1993).
Anggota filum Echinodermata adalah penghuni lingkungan bahari, terutama di laut bentik. Ciri khasnya adalah tubuh yang menjurus lima tersusun mengelilingi suatu sumbu polar. Hewan ini memiliki kerangka dalam yang mempunyai duri (spine). Sistem pencernaan cukup berkembang, tetapi tidak memiliki sistem ekskresi. Kebanyakan anggota filum Echinodermata diosius, bersaluran reproduksi sederhana, fertilisasi berlangsung eksternal (Ruppert, 1991). Brotowidjoyo (1994), menyatakan hewan ini memiliki sistem digesti lengkap walaupun anus tidak berfungsi. Menurut Niel A. Campbell et al., (2003), bahwa reproduksi seksual anggota filum Echinodermata pada umumnya melibatkan individu jantan dan betina yang terpisah (diosius) dan membebaskan gametnya ke dalam air.
2.2. Karakteristik Phylum Echinodermata
Hyman (1955), menyatakan kelas Echinodermata antara lain: Crinoidea, Asteroidea, Ophiuroidea, Echinoidea dan Holothuroidea.
2.2.1. Kelas Asteroidea
Asteroidea atau banyak orang menyebutnya bintang laut, biasanya di jumpai merayap pada batu, pasir dan terumbu karang dalam laut. Mulut hewan ini berada di sisi bawah terletak ditengah-tengah cakram dan anus diatas.Asteroidea termasuk karnivora, makanan berupa ikan, tiram, kerang, teritip, keong, cacing, crustaceae dan lain-lain. Beberapa jenis merupakan pemakan bangkai. Achantaster merupakan hama pada terumbu karang yang memakan polip Coelenterata. Warna bintang laut ini menarik, biasanya ujung duri berwarna kemerahan atau orange sedangkan permukaan lengan berwarna abu-abu kebiruan.Habitat bintang laut ini adalah terumbu karang terutama dilereng terumbu pada kedalaman 2 sampai 6 meter (Nontji, 1993). Seluruh tubuhnya tertutup oleh duri kecuali pada lekuk sisi oral disebut celah ambulakral dan ada juga yang tidak memiliki duri.Alat gerak berupa kaki tabung. Branchi muncul diantara papan-papan kapur yang berfungsi sebagai alat pernafasan dan ekskresi.Hewan ini memiliki sistem saluran air, lambung, madreporit (saluran keluar masuknya air) dan anus. Permukaan tubuhnya terdapat pediselariae sebagai alat tambahan dan bentuk seperti angkup yang berfungsi untuk menghilangkan benda-benda asing di permukaan tubuhnya (Vinomo, 2007).
Gambar 2. Struktur tubuh bintang laut
Reproduksi Asteroid umumnya dioecious, mempunyai lima pasang gonad pada tiap tangan. Telur dan sperma dilepas ke air, pembuahan diluar dan setelah 2 hari menjadi blastula yang berenang bebas.Larva mulai makan pada saat saluran pencernaan sudah terbentuk.Makanan larva adalah fitoplankton dan partikel tersuspensi. Enam atau tujuh minggu kemudian larva turun ke substrat dan mengalami metamorfosa menjadi dewasa.Kebanyakan bintang laut berumur 10 tahun, tetapi ada yang mencapai 34 tahun (Romimohtarto & Juwana, 2001). Bintang laut dan beberapa Echinodermata mampu melakukan regenerasi. Bintang laut dapat menumbuhkan kembali lengan yamg hilang dan bahkan anggota satu genus dapat menumbuhkan kembali keseluruhan tubuh dari sebuah lengan (Niel A. Campbell et al., 2003).
2.2.2. Kelas Crinoidea
Kelompok hewan ini dinamakan lili laut atau bintang bulu yang mempunyai bentuk yang indah. Sebagian dari mereka hidup dilaut dan beberapa jenis mendiami laut dangkal seperti terumbu karang. Ukurannya tidak lebih dari 40 cm panjangnya dan warna mencolok.Hewan ini memiliki tangkai, kelopak dan lengan. Setiap lengan bercabang 2 atau lebih. Setiap cabang mempunyai ranting-ranting melintang disebut pinula dan cabang- cabang ini membuat hewan ini berbulu. Hewan ini memakan plankton kecil dibawa oleh lengan. Hewan ini peka, tetapi mempunyai kemampuan regenerasi yang tinggi sehingga dapat menyembuhkan diri dari luka (Nontji, 1993).
Gambar 3. Morfologi Crinoid
Reproduksi secara seksual dan dioecious. Gonad terdapat pada pangkal beberapa pinula atau pangkal tangan. Pembuahan di air laut atau dierami.Telur bintang bulu dilekatkan pada sejumlah pinula.Telur menjadi larva, berenang bebas untuk beberapa hari. Selanjutnya turun dan melekat pada substrat dan mengalami proses metamorfosis menjadi bentuk larva bertangkai kecil yang disebut pentacrinoid yang berukuran 3 mm dan proses metamorfosa membutuhkan waktu 6 minggu hingga dewasa (Hyman, 1955).
Proses makan hewan ini dengan menyaring air, plankton masuk ke celah bersilia lalu lengan dan pinula kemudian dialirkan ke mulut. Organ pencernaan ada di calyx.Makanan dibuang melalui anus yang di dekat mulut. Semua jenis dari kelompok ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi baik untuk dijadikan bahan makanan maupun untuk bahan hiasan di akuarium, kecuali bulu seribu, mahkota seribu atau mahkota duri merupakan jenis yang merusak, karena bila populasinya berlimpah akan memakan polip-polip karang dan menyebabkan karang berwarna putih serta lama-kelamaan sebagian populasi karang akan rusak dan mati (Nybakken, 1988).
2.2.3. Kelas Echinoidea
Pada permukaan tubuh hewan ini terdapat tonjolan-tonjolan pendek yang bulat yaitu tempat menempel duri yang tersusun dari zat kapur atau hewan ini sering disebut landak laut. Hewan ini terdiri dari duri, kaki tabung, turberkel. Adakalanya duri tersebut panjang, runcing, di dalamnya berlubang dan rapuh ada juga duri hewan ini pendek dan tumpul. Racunnya sangat keras dan menyakitkan bagi manusia bila tertusuk. Pedicellaria pada bulu babi juga ada yang beracun, berfungsi untuk menghalau atau melumpuhkan binatang-binatang kecil yang mengotori atau mengganggu. Hewan ini biasanya hidup di sela-sela pasir atau bebatuan pantai atau di dasar laut.Tubuhnya tanpa lengan hampir bulat atau gepeng (Sugiarto, 2007).
Gambar 4. Morfologi Echinoidea
Saluran pencernaan lengkap, terdiri atas mulut, esofagus, perut, usus yang panjang dan melingkar, rectum dan anus.Bulu babi memakan ganggang laut, hewan sessile, bangkai, beberapa jenis memakan detritus dan lain-lain. Reproduksi secara seksual, dioecious dan pembuahan di luar.(Ruppert, 1991).
2.2.4. Kelas Holothuroidea
Sebagai contohnya, teripang atau timun laut (Thyone briereus). Tubuhnya lunak, berbentuk seperti kantung memanjang. Dalam kulitnya terdapat papan-papan kecil dari kapur. Pada satu ujung terdapat mulut yang dikelilingi oleh tentakel-tentakel bercabang. Tentakel ini berongga dan dapat memanjang karena tekanan air, hewan ini tidak memiliki duri (Sugiarto, 2007).
Gambar 5. Morfologi Timun Laut
Timun laut merayap lambat sekali, biasanya bersembunyi dalam lubang atau celah batu dan koral atau menanamkan diri dalam lumpur atau pasir laut dan hanya bagian posteriornya saja yang nampak. Umumnya hewan ini aktif pada malam hari berkeliaran pada mencari makan. Makanannya ialah bahan organik yang terdapat dalam sampah substrat atau plankton yang melekat pada lendir tentakel. Satu persatu tentakel dimasukkan dalam pharink dan ketika ditarik keluar maka butir-butir makanan akan melekat pada lendir tentakel dan selanjutnya ditelan. Sistem pencernaan terdiri atas mulut, pharink, esofagus, lambung, usus, cloaca, dan anus (Brotowidjoyo, 1994).
Teripang (Holothuroidea) merupakan golongan yang paling umum dijumpai. Hewan ini banyak terdapat di paparan turumbu karang, pantai berbatu atau berlumpur dan padang lamun. Bukan hanya dilaut dangkal, ada juga yang hidup di laut dalam sekitar 7.000 m. Susunan bentuk dasar tubuh Echinodermata tidak jelas terlihat pada bentuk luar teripang ini karena karangka luarnya tidak ada. Hewan ini sangat bergerak lamban sehingga seakan-akan teripang selalu dalam keadaan diam pada waktu kita lihat di alam bebas. Untuk melindungi diri dari musuh, hewan ini mengeluarkan lendir yang beracun dari tubuhnya. Ada juga jenis yang menyemprotkan getah yang sangat lengket dari duburnya apabila diganggu.Banyak jenis hewan ini yang bisa dikonsumsi bahkan merupakan bahan makanan yang istimewa di restoran Cina (Nontji, 1993).
2.2.5. Kelas Ophiuroidea
Hewan ini memiliki 5 lengan atau tangan yang panjang, berfungsi sebagai alat gerak, Tangan rapuh dan mudah putus namun akan tumbuh tangan baru. Kelima tangan ini bergerak-gerakkan sehingga menyerupai ular. Oleh karena itu hewan jenis ini sering disebut bintang ular laut. Hewan ini rentan terhadap lingkungan dan aktif pada malam hari, berenang dan mencari makan dengan bantuan tangan-tangannya yang gemulai dan dapat meliuk-liuk seperti ular. Bagian mulut akan membentuk bagian yang hilang (Ruppert, 1991).
Gambar 6. Ophiuroidea
Hewan Ofiuroidea hidup dilaut, bersembunyi diantara rumput laut, dalam lumpur atau dalam pasir yang aktif pada malam hari dan hidup berenang, makanan terdiri dari moluska, krustacae, jasad renik dan zat organik yang sedang membusuk yang berada di dasar parairan. Cara makan dengan mengangkat lengan ke atas dalam air untuk menangkap plankton dan bahan makanan lainnya. Hewan ini tidak memiliki anus, makanan yang tidak dicerna dimuntahkan kembali keluar mulut (Romimohtarto & Juwana, 2001). Dalam Nontji (1993) menyatakan bintang mengular biasanya sukar dijumpai karena lebih senang pada tempat-tempat yang agak gelap di bawah batu atau celah-celah karang. Diatom merupakan makanannya utama, tetapi ada pula yang memakan berbagai hewan kecil. Kebanyakan Ophiuroid adalah dioecious. Pembuahan diluar, menghasilkan larva ophiopluteus yang berenang bebas.Beberapa hari kemudian mengalami metamorfosa mengalami hidup dewasa. Beberapa jenis mempunyai kantung pengeraman dan larvanya berenang bebas (Brotowidjoyo, 1994).
2.3. Morfologi Echinodermata
Gambar 7. Morfologi Echinodermata (a. Kelas Asteroidea, b. Kelas Crinoidea, c. Kelas Echinoidea, d. Kelas Ophiuroidea, e. Kelas Holothuroidea)

Hewan Echinodermata bertubuh kasar karena ditutupi tonjolan kerangka atau duri yang memiliki berbagai fungsi tetapi ada juga sebagian tidak memiliki duri seperti timun laut. Sistem pencernaan cukup berkembang, tetapi tidak memiliki sistem ekskresi. Kebanyakan hewan ini diosius, saluran reproduksi sederhana, sedangkan fertilisasi berlangsung eksternal (Pecherik, 2005). Sistem pembuluh air berfungsi untuk mengerakkan kaki tabung (tube feet) dengan cara mengatur masuk dan keluarnya air laut melalui madreporit (saluran keluar masuknya air). Kontraksi ampula mengatur volume air dalam kaki tabung, berarti mengatur gerak kaki tabung.Kaki tabung juga berfungsi untuk merayap, berpegang pada substrat, memegang mangsa atau membantu pertukaran gas O2 dan CO2 (Nontji, 1993). Alat pernafasan utama Echinodermata ialah insang kulit yang merupakan perluasan rongga tubuh yang keluar melalui lubang-lubang kecil di antara osscle kapur. Rongga tubuh berisi cairan semacam getah bening, mengandung amebocyte yang berkepentingan dalam peredaran darah, pernafasan dan ekskresi. Didalam rongga tubuh terdapat organ dalam seperti kelenjar pencernaan (Ruppret, 1991).
Hewan ini bertahan hidup dengan suatu sistem pembuluh air yang unik yang dilibatkan di dalam pernapasan, gerakan, dan pertemuan makanan. Mulut itu ditempatkan di bagian bawah dari tubuh. Organ bagian badan terdiri dari suatu lima bagian simetris termasuk gigi dan struktur seperti lidah yang gemuk (Sugiarto, 2007).
2.4. Faktor Ekologi Echinodermata

2.4.1. Suhu
Pada setiap penelitian perairan, pengukuran suhu adalah hal yang harus dilakukan sebab kelarutan berbagai gas dalam air serta seluruh aktivitas biologis dan fisiologis organisme perairan sangat dipengaruhi oleh suhu ( Brehm dan Meijering, 1990 dalam Barus, 1996). Kinsman (1964) dalam Supriharyono (2002) menyebutkan bahwa batas minimum dan maksimum suhu berkisar antara 16°C -17° dan 36° C.
Pola temperatur ekosistem akuatik dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dan udara sekelilingnya dan juga oleh faktor kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi perairan (Brehm et al., 1990 dalam Barus, 1996).
2.4.2. Salinitas
Ciri paling khas pada air laut adalah rasa asin, karena mengandung bermacam-macam garam dan yang paling utama adalah NaCl. Echinodermata mampu beradaptasi disalinitas 24,4 ‰ sampai dengan 34,5 ‰ (Pagett 1981). Namun pengaruh salinitas tergantung pada kondisi perairan laut setempat atau pengaruh alam seperti badai dan hujan (Supriharyono, 2002).
2.4.3. DO (Disolved Oxygen)
DO merupakan banyaknya oksigen terlarut dalam suatu perairan. Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting di dalam ekosistem perairan, terutama sekali dibutuhkan untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme air. Kelarutan oksigen di dalam air terutama sangat dipengaruhi oleh faktor suhu, dimana kelarutan maksimum terdapat pada suhu 00C, yaitu sebesar 14,16 mg/l O2 sedangkan nilai oksigen terlarut di perairan sebaliknya tidak lebih kecil dari 8 mg oksigen/liter air. Dengan peningkatan suhu akan menyebabkan konsentrasi oksigen akan menurun dan sebaliknya suhu yang semakin rendah akan meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut. Sumber utama oksigen terlarut dalam air berasal dari adanya kontak antara permukaan air dengan udara dan juga dari proses fotosintesis (Barus, 2004). Menurut Michael (1994), oksigen hilang dari air alam oleh adanya pernafasan biota, pengurairan bahan organik, aliran masuk air bawah tanah yang miskin oksigen dan kenaikan suhu.
2.4.4. pH (Derajat Keasaman)

Setiap spesies memiliki kisaran toleransi yang berbeda terhadap pH.pH yang ideal bagi kehidupan organisme akuatik termasuk makrozoobentos pada umumnya berkisar antara 7 sampai 8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. Disamping itu pH yang sangat rendah akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat yang bersifat toksik semakin tinggi yang tentunya akan mengancam kelangsungan hidup organisme akuatik. Sementara pH yang tinggi akan menyebabkan keseimbangan antara amonium dan amoniak dalam air akan terganggu, dimana kenaikan pH diatas akan meningkatkan konsentrasi amoniak yang juga bersifat sangat toksik bagi organisme (Barus, 2004).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar